Laporan:
Oleh Kelik Dewanto Berangkat dari keprihatinan masih rendahnya tingkat sumber daya manusia (SDM) di Indonesia, sejumlah perusahaan yang dimotori PT Kawasan Oleh Kelik Dewanto Berangkat dari keprihatinan masih rendahnya tingkat sumber daya manusia (SDM) di Indonesia, sejumlah perusahaan yang dimotori PT Kawasan Industri Jababeka Tbk mendirikan perguruan tinggi yang diharapkan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Sederet tokoh nasional melalui President University Foundation ikut mendirikan perguruan tinggi yang dinamakan President University. Di antaranya, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Juwono Sudarsono, pakar hukum UI Prof Dr Charles Himawan, dan Menteri Negara BUMN Ir Laksamana Sukardi. President University berdiri megah dengan bangunan empat lantai di kawasan industri Jababeka yang dikelilingi 1.020 perusahaan dan sebagian besar asing dengan luas keseluruhan 3.000 ha di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Selain kawasan industri, di sekitar perguruan tinggi yang mulai menerima mahasiswa sejak tahun ajaran 2002/2003 itu juga terdapat kawasan perumahan, area komersial, kawasan pendidikan, rekreasi, dan olah raga. Juwono Sudarsono mengatakan, untuk mewujudkan universitas yang berkelas dunia itu, President University berpedoman setidaknya pada dua elemen utama. Pertama, melibatkan para pengajar yang berpengalaman dan berpengetahuan di bidangnya baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Kedua, menurut Juwono, yang juga pernah menjabat Menteri Pertahanan semasa Presiden Abdurrahman Wahid, President University menyediakan fasilitas pembelajaran yang lengkap guna mendukung proses belajar mengajar, sehingga menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan mahasiswanya. Presiden Direktur PT Kawasan Industri Jababeka Tbk Setyono Djuandi Darmono menambahkan, saat ini, di President University sudah banyak dosen yang berasal dari luar negeri. Selain terdapat pula sejumlah mahasiswa asing di antaranya dari China dan Vietnam. "Dengan demikian, mereka bisa berkolaborasi dan melakukan pertukaran budaya yang bisa mi Jababeka merupakan tempat ideal dalam melakukan praktik kerja dan menjadi lapangan pekerjaan bagi mahasiswa President University," ujar Darmono. Menurut Darmono, kepeduliannya bergelut dalam bidang pendidikan yang katanya kurang menguntungkan, juga karena masih banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tidak siap pakai, sehingga perusahaan terutama asing yang beroperasi di Indonesia harus mencari tenaga kerja asing atau merelokasikan usahanya ke negara lain seperti China atau Vietnam. "Ini tentu melemahkan daya saing kita dengan asing," katanya. Dicontohkannya, sekitar 50 persen perusahaan asing di Jababeka yang kekurangan tenaga kerja, mencarinya di luar negeri. Selain itu, hal lain yang mengusiknya untuk bergelut di dunia pendidikan adalah karena merasa prihatin dengan masih tingginya generasi muda Indonesia yang menuntut ilmu di negeri lain. "Dulu, saya masih ingat mahasiswa dari negara lain seperti Malaysia banyak menuntut ilmu terutama teknik di Indonesia, namun sekarang mahasiswa kita yang belajar ke sana. Ini sungguh memprihatinkan," ujarnya. Beasiswa Terkait dengan kepedulian itu, salah satu upaya President University untuk menarik siswa-siswi SMU yang pandai adalah memberikan beasiswa dengan nilai hingga Rp65 juta per tahun. Tahun ajaran 2004/2005 adalah ketiga kali President University memberikan beasiswa. Pada tahun ketiga ini, President University menargetkan memberikan beasiswa bagi 500 siswa-siswi SMU yang berprestasi untuk belajar di program strata satu (S1) di dua fakultas yang ada. Yakni, fakultas teknik untuk jurusan teknik elektro, otomotif, industri, kimia, dan teknologi informasi dan fakultas bisnis dengan jurusan akutansi, sumber daya manusia, hotel dan pariwisata, keuangan, marketing, dan humas. Sebelumnya, pada tahun ajaran 2002/2003, memberikan beasiswa kepada 50 siswa-siswi, sedang tahun anggaran 2003/2004 jumlah penerima beasiswa bertambah menjadi 140 siswa-siswi. Persyaratan agar memperoleh beasiswa adalah siswa atau siswi SMU kelas tiga semua jurusan, nilai rapor dari kelas satu hingga tiga minimal tujuh, dapat berbahasa Inggris, bisa mengoperasikan komputer, sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter), berkelakuan baik (surat keterangan kepala sekolah), lulus ujian masuk dan bersedia tinggal selama tahun pertama kuliah di asrama Cikarang, Jawa Barat. Achmad Baiquni (19), salah seorang siswa SMU yang menerima beasiswa untuk tahun ajaran 2003/2004 mengatakan, dirinya sangat merasakan manfaat beasiswa yang diberikan President University. "Saya anak kurang mampu, karena itu saya beruntung sekali mendapat beasiswa ini," kata anak petani dari Desa Tangkir, Kabupaten Tuban, Propinsi Jawa Timur. Anak ke-2 dari empat bersaudara itu merupakan lulusan SMU Taruna Nusantara di Magelang, Jawa Tengah. Ia merupakan salah satu dari 50 siswa SMU Taruna Nusantara yang memperoleh beasiswa dari President University. Ia mengatakan, President University sangat menonjolkan suasana internasional dalam proses pembelajarannya, sehingga dirinya bisa mengembangkan diri dengan lebih baik. "Selain diajar oleh dosen-dosen dari luar negeri, saya juga bisa bergaul dengan mahasiswa luar negeri," ujarnya.(ant)
Sumber: http://203.130.198.30//artikel/23777.shtml