Cetak sekarang!

Kapal Laut, Alternatif Transportasi Haji Mengalami Dilema

Laporan:

 Dulu, sebelum tahun 1979, calon jamaah haji Indonesia mempunyai kebebasan untuk memilih salah satu dari dua pilihan. Apakah pemberangkatan ke Tanah Suci menggunakan kapal laut, atau dengan pesawat terbang?
Kapal Laut, Alternatif Transportasi Haji Mengalami Dilema Dulu, sebelum tahun 1979, calon jamaah haji Indonesia mempunyai kebebasan untuk memilih salah satu dari dua pilihan. Apakah pemberangkatan ke Tanah Suci menggunakan kapal laut, atau dengan pesawat terbang? Jika ditinjau dari segi efektivitas dan efisiensi kedua transportasi ini mempunyai kelebihan dan kelemahannya. Pertama, transportasi pesawat terbang tentu jarak tempuhnya lebih cepat dibandingkan menggunakan kapal laut. Jarak tempuh pesawat dari Jakarta (Indonesia) sampai Jeddah (Arab Saudi) hanya 9 jam, sedangkan melalui kapal laut bisa berminggu-minggu bahkan mungkin sampai sebulan. Kedua, menggunakan kapal laut yang waktunya agak lama bisa dimanfaatkan oleh kepala rombongan untuk memberi atau mematangkan manasik haji kepada jamaahnya masing-masing, sehingga pada saat melaksanakan ibadah haji jamaah bisa mandiri. Sedangkan memakai pesawat terbang karena waktunya sangat singkat tidak memungkinkan ketua rombongan memberikan manasik haji. Meski demikian, siapa pun tidak dapat mencegah atau memengaruhi calon jamaah haji untuk memilih alat transportasi tersebut. Mereka mempunyai alasan yang berbeda-beda untuk memilih menggunakan kedua alat transportasi. Mungkin bagi yang takut menggunakan pesawat terbang, tentu pilihannya adalah kapal laut. Tetapi bagi mereka yang sibuk atau ingin cepat kembali ke tanah air, akan memilih menggunakan pesawat terbang. Perbedaan biaya transportasi antara kedua alat transportasi tersebut juga menjadi pertimbangan bagi para calon jamaah haji untuk memilihnya. Namun, yang menjadi masalah, mengapa sejak tahun 1979 tidak ada lagi pemberangkatan calon jamaah haji melalui kapal laut? Alternatif transportasi haji Mungkinkah haji laut akan menjadi alat transportasi haji lagi setelah padat dan sibuknya penerbangan udara ke Arab Saudi? Haji laut menjadi alternatif transporasi bagi jamaah haji Indonesia karena dapat mengangkut jamaah dalam jumlah cukup banyak. Selama ini, jamaah haji laut hanya dilakukan asal Mesir, Sudan, dan sebagian India dan Pakistan. Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Departemen Agama, MA Ghofur Djawahir mengatakan haji laut itu cukup baik sebagai alternatif alat transportasi haji, tapi mengalami beberapa kendala. Pertama, apakah harganya bisa lebih murah dibanding biaya penerbangan. Kedua, bagaimana jika ada jamaah tertinggal karena sakit di Tanah Suci atau lainnya. Apakah harus menunggu kapal berikutnya. Ketiga, soal kapal cadangan terkait bagaimana jika mengalami kerusakan di tengah jalan. Kendala-kendala tersebut memang harus dikaji. Meski demikian, perlu dipertimbangkan kapal laut sebagai alternatif alat transportasi penyelenggaraan haji. Sebab, haji laut bisa mengangkut sekaligus sekitar 2.000 jamaah haji setara dengan lima kloter. Lagi pula, kapal-kapal modern dan baru memiliki kecepatan menantang yang bisa memperpendek jarak tempuh Jakarta ke Jeddah. Menurut Ghofur, sekira 50 persen jamaah haji asal Indonesia baru pertama kali ke luar negeri. Ini masih merupakan pilot project sekaligus memenuhi keinginan masyarakat yang menginginkan berangkat dengan kapal haji, karena ada yang takut dengan pesawat terbang. Mantan Menteri Agama, Maftuh Basyuni mengatakan tidak pernah berfikir akan ada lagi penyelenggaraan haji melalui kapal laut atau yang lebih populer disebut haji laut, karena menurutnya menggunakan kapal lalut kesulitannya jauh lebih besar ketimbang kemudahan. Memang, Departemen Agama tidak pernah melontarkan ide atau gagasan untuk menyelenggarakan haji laut. Wacana perlu diadakannya kembali haji laut itu pernah dikemukakan Muslimin Nasution dari Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) beberapa tahun silam. Alasannya, selain dapat menghemat, juga dapat mengangkut jamaah dalam jumlah besar. Sebagai orang lama di sana dan pernah ikut aktif menangani penyelenggaraan haji laut, rasanya tak seperti yang digambarkan Muslimin Nasution. Sengsaranya lebih banyak, ujar Maftuh Basyuni tiga bulan sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai Menteri Agama. Memang, harus diperhatikan hambatan dari penyelenggaraan haji lewat laut. Yaitu, perubahan iklim yang ekstrim dan berpengaruh terhadap jamaah. Belum lagi kepadatan pelabuhan di Arab Saudi, yang ketika musim haji lebih banyak kapal barang ketimbang kapal penumpang. Belum lagi kapal pengangkut jamaah harus sandar di pelabuhan selama jamaah melaksanakan kewajibannya, menunggu 10-15 hari. Belakangan ini, beberapa negara Muslim cenderung menggunakan angkutan udara untuk jamaah haji. Selain efisien, juga memberikan kenyamanan lebih baik bagi jamaah. Mantan Menteri Agama Mukti Ali, yang membuka penyelenggaraan haji lewat udara, sangat memperhatikan kenyamanan jamaah haji. Karena itu, secara bertahap penyelenggaraan haji lewat laut ditutup. PT Arafat mengangkut haji laut Sebelum menggunakan pesawat terbang, penyelenggaraan haji Indonesia selalu menggunakan kapal laut, bahkan sudah berlangsung sejak zaman Belanda menjajah Indonesia. Pada tahun 1964 dibentuk PT Arafat sebagai satu-satunya perusahaan yang menangani angkutan haji laut, dengan kapal-kapalnya antara lain: KM Gunung Jati, Tjuk Nyak Dien, Pasifik Abeto, dan lain-lain. Kapal-kapal tersebut dapat membawa penumpang dari Indonesia ke Timur Tengah kurang lebih satu bulan. Biaya haji tahun itu sebesar Rp 400.000 untuk kapal laut dan 1.400.000 untuk pesawat. Sebenarnya, penggunaan pesawat terbang sudah dimulai tahun 1952. Tetapi karena biayanya lebih mahal dari kapal laut, yaitu Rp 16.691 untuk pesawat dan Rp. 7.500 untuk kapal laut, jamaah haji lebih suka menggunakan kapal laut. Saat itu, yang naik pesawat hanya 293 orang, sedangkan yang naik kapal ada 14.031 orang. Ibadah haji naik kapal laut masih dominan hingga tahun 1960-an. Namun di tahun 1970-an pesawat udara lebih mendominasi karena biayanya yang tidak jauh berbeda. Seperti pada tahun 1974, biaya haji udara Rp 560.000, sedangkan haji laut berdikari Rp 556.000. Jamaah udara ada 53.752 orang, sedangkan yang pakai kapal laut hanya 15.396 orang. Nasib haji laut terhenti pada tahun 1979 ketika PT Arafat dinyatakan pailit lewat SK Menteri Perhubungan No SK-72/OT.001/Phb-79. Hal tersebut dipilih pemerintah karena PT Arafat tidak mampu mengurusi haji laut lagi. Apalagi saat itu biaya haji laut lebih mahal daripada haji udara. Tahun 1978, biaya haji udara hanya Rp 766.000, sementara biaya kapal laut mencapai Rp 905.000. (sidik m nasir)


Sumber: http://116.213.48.92//artikel/82057.shtml