Cetak sekarang!

Ekspor Perikanan Triwulan I/2010 Meningkat 3,7 Persen

Laporan:

 Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat pada triwulan I/2010 ekspor komoditi hasil perikanan Indonesia menunjukan peningkatan sebesar 3,26 ribu ton atau 3,7 persen.
Ekspor Perikanan Triwulan I/2010 Meningkat 3,7 Persen Jakarta,Pelita Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat pada triwulan I/2010 ekspor komoditi hasil perikanan Indonesia menunjukan peningkatan sebesar 3,26 ribu ton atau 3,7 persen. Kenaikan ekspor tersebut didominasi oleh produksi ikan segar, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya yang mengalami peningkatan hingga 2,45 ribu ton. Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan Syamsul Maarif di Jakarta, kemarin, mengatakan, secara keseluruhan nilai perdagangan komoditas perikanan yang diperoleh mencapai 621,8 juta dolar AS atau meningkat 7,09 persen dibanding triwulan I/2009. Peningkatan ekspor terbesar dihasilkan dari komoditas lemak dan minyak ikan yang meningkat hampir 3000 persen dari 2,26 ribu kg menjadi 69,36 ribu kg, ujarnya. Syamsul menambahkan, secara keseluruhan nilai ekspor mengalami kenaikan, tetapi ada beberapa komoditas perikanan lain mengalami penurunan. Seperti udang tidak beku, udang beku, udang kaleng, tuna segar, tuna cakalang beku, kepiting kaleng, paha kodok, siput/bekicot dan lainnya. Meskipun beberapa komoditas mengalami penurunan, tetapi tidak mempengaruhi neraca ekspor. Karena masih dapat ditutupi oleh kenaikan nilai beberapa komoditi utama, seperti tuna kaleng dan beberapa komoditi utama lainnya, Menurut Syamsul, Jepang masih menjadi negara tujuan ekspor produk perikanan Indonesia dengan kenaikan volume dan nilai terbesar dibanding dengan negara tujuan lainnya yaitu sebesar 12,91 persen dan 4 persen dibandingkan dengan triwulan I/2009. Sedangkan untuk tujuan ekspor ke Afrika peringkat teratas adalah Ghana dengan kenaikan sekitar 8,7 persen untuk volume dan 105 persen untuk nila, di Benua Amerika terbesar Chili, sedangkan di benua Australia terbesar Selandia Baru. Impor juga naik Ia menambahkan, selain peningkatan ekspor, impor juga mengalami kenaikan sebesar 3,83 ribu ton. Tetapi komoditas makanan udang mengalami penurunan dengan volume 80 persen dan nilai 87 persen. Bahkan, impor jenis produk Indonesia yang terdaftar di Eropa sebanyak 162 perusahaan pengolahan dalam jenis udang dan tuna, seperti pembekuan dan pengalengan. Uni Eropa itu selalu bukan saja mempersyaratkan mutu dan keamanan pangan. Tetapi juga keamanan ikan itu ditangkap dari cara cara yang legal atau tidak dari syarat tersebut sangat menguntungkan Indonesia. Karena Indonesia tidak pernah mencuri ikan di perairan negara lain, sementara Indonesia yang selalu dicuri oleh nelayan luar, jelasnya. Misalnya, Thailand mengekspor hasil olahan perikanannya walaupu ikan tersebut berasal dari Indonesia, maka negara tersebut harus minta sertifikat dari Indonesia bahwa ikan tersebut ditangkap secara legal bukan mencuri. Soalnya, Uni Eropa merupakan negara tujuan ekspor produk perikanan terbesar di dunia. Syarat sertifikat hasil tangkapan legal suatu kewajiban bagi seluru importir dari berbagai negara yang ingin impor ke Eropa. Jadi, sebanyak 162 perusahaan pengolahan Indonesia yang terdaftar di Eropa juga harus mempunyai sertifikat legal yang dikeluarkan Ditjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui kepala pelabuhan perikanan, kata Syamsul. (cr- 1)


Sumber: http://116.213.48.92//artikel/96882.shtml