Cetak sekarang!

Dibalik Berbagai Isu yang Silih Berganti

Laporan:

 MENCERMATI pemberitaan berbagai media, niscaya kita sepakat, bahwa berbagai isu muncul silih berganti. Isu yang lama belum ada penyelesaian, isu yang baru, telah muncul.
Dibalik Berbagai Isu yang Silih Berganti MENCERMATI pemberitaan berbagai media, niscaya kita sepakat, bahwa berbagai isu muncul silih berganti. Isu yang lama belum ada penyelesaian, isu yang baru, telah muncul. Sayang, berbagai isu-isu itu ada nuansa negatifnya. Sejak isu Bank Century, Bibit-Chandra, Susno, Luna Maya-Ariel sampai ke kasus Sisminbakum-nya Yusril Ihza Mahendra. Semuanya membenarkan dalil dalam dunia jurnalistik, bahwa bad news is good news. Padahal, banyak masalah yang mestinya memerlukan perhatian kita bersama. Bagaimana mengatasi ratusan Peraturan Daerah (Perda) yang dibatalkan, yang mestinya memerlukan pemikiran mendasar terkait otonomi daerah. Bagaimana dunia pendidikan kita, yang dikritik kurang memperhatikan pendidikan karakter? Bagaimana memecahkan Program Jamkesmas, yang ternyata masih menghambat orang yang tidak mampu memperoleh pelayanan kesehatan. Dan bagaimana mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Menjelang puasa dan Idul Fitri, bagaimana kita bisa mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok? Belum lagi persoalan kepartaian kita, yang belum mampu menunjang lahirnya stabilitas politik. Semua itu, kalau kita mau jujur, menunjukkan masih adanya keruwetan didalam kehidupan kita. Cita-cita reformasi birokrasi, good governance, masih harus menghadapi kendala yang besar. Mengesankan, adanya pragmatisme yang sangat dominan, sehingga mengabaikan perbaikan sistem. Ketika kita melanggar sistem, timbullah masalah, terkait dalil-dalil yang mestinya mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara kita secara benar. Dari kasus Bank Century sampai Sisminbakum, orang berdebat, apakah negara dirugikan? Adakah uang negara di sana? Belum lagi isu sampingan terkait dengan berita-berita seperti itu. Semuanya hanya akan mengurangi citra baik kita sebagai bangsa. Kita tidak tahu, apakah semua itu kita biarkan meluncur sebagaimana adanya secara alamiah. The show must go on kata orang. Kalau seluruh keruwetan sudah terungkap, maka akan ada titik balik yang bisa memberi harapan untuk optimis. Kapan kita sampai ke sana? Tidak berlebih, yang diperlukan sekarang adalah ketahanan kita sebagai bangsa. Dan disinilah kita percaya, bahwa daya tahan bangsa ini luar biasa. Apapun masalah yang kita hadapi, insya-Allah kita akan menemukan jalan keluar dari keruwetan secara alamiah juga. Dalam hal ini, sejarah telah membuktikan, sejak awal Kemerdekaan. Namun, yang sesungguhnya sangat penting adalah, bahwa kita sebenarnya tidak boleh mengalami peristiwa sejarah yang buruk untuk kedua kalinya. Kalau hal ini terjadi, kita akan tertinggal dengan bangsa-bangsa lainnya. Disinilah sangat relevannya apa yang dikatakan Bung Karno, belajarlah dari sejarah. Setelah lebih 60 tahun Merdeka, mestinya kita sudah sampai (setidaknya) pada sistem berbangsa dan bernegara yang mantap. Tidak terus-menerus melakukan percobaan, yang hanya menunjukkan belum mantapnya sistem berbangsa dan bernegara kita, meskipun kita semua selalu merujuk ke Pancasila/UUD 1945.n


Sumber: http://116.213.48.92//artikel/97476.shtml