Kisah Winai Dahlan dan The Halal Science Center – Thailand

Kisah Winai Dahlan dan The Halal Science Center – Thailand

Winai Dahlan tersenyum lebar. “Begini kantor kami, nanti bisa keliling melihat-lihat laboratorium kami” kata pendiri dan direktur The Halal Science Center ini saat disambangi di kantornya di Chulalongkorn University, Bangkok, Januari lalu.

Pria 64 tahun ini memang sangat bangga dengan institusi yang dia bangun dari nol dan berhasil menjadi lembaga yang terkenal dalam pengembangan industri halal. Bahkan kiprahnya tersebut telah membawanya ke panggung lebih besar. Ia kini juga menjadi kepala The Halal Standard Institute of Thailand dan The Halal Standard Control Board of Thailand.

Ia juga wakil presiden Central Islamic Council of Thailand. Padahal, Winai muda tak pernah berniat terjun ke kegiatan yang bernuansa keagamaan. Meskipun almarhum ayahnya, Irfan Dahlan, adalah tokoh muslim dan memimpin Masjid Jawa di Bangkok. Bahkan kakeknya adalah pesohor muslim yang sangat disegani di Indonesia, Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

“Ayah saya tak pernah memberi tahu kami tentang beliau,” ujar pria 64 tahun ini. “Ayah saya rendah hati.” Tetapi sejak kecil, Winai Dahlan telah bermimpi menjadi ilmuwan. “Saya suka membaca, terutama bacaan sci-fi (science fiction),” kata dia. “Saya suka Flash Gordon (tokoh komik),” ia melanjutkan, sembari tertawa kecil.

Pada 1924, setahun setelah Ahmad Dahlan meninggal, Muhammadiyah mengirim ayah Winai, Irfan Dahlan, untuk belajar ke India. Namun setelah lulus pada 1930, Irfan Dahlan bukannya pulang ke Yogyakarta, tetapi pergi ke Pattani, Thailand Selatan. “Ada temannya yang memiliki klinik di sana,” kata Winai.

Dua tahun kemudian, Irfan pindah ke Bangkok. Ia pun bertemu dengan pemimpin Masjid Jawa yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah. Rupanya, Irfan mendapat “berkah”, ditawari menikah dengan putri sang imam. “Mungkin imam tersebut tahu bahwa ayah saya berasal dari keluarga baik-baik,” ujar Winai.

Dari perkawinan tersebut, Irfan memiliki 10 anak dan Winai merupakan anak nomor 5. Tetapi kepada anak-anaknya, Irfan tak pernah meminta mereka untuk belajar yang terkait dengan Islam atau juga aktif dalam kegiatan keagamaan. Ia pun tak banyak memberi tahu sepak terjang Ahmad Dahlan.

Winai dan saudara-saudaranya baru mengetahui kebesaran sang kakek saat Irfan ke Indonesia pada awal 196oan saat penganugerahan Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional. Irfan pulang membawa perangko bergambar Ahmad Dahlan. “Kisah tentang kakek pun terbuka.”

Winai yang selalu ingin menjadi ilmuwan memilih belajar biokimia di Chulalongkorn University, Bangkok. Ia kemudian mendapatkan gelar Masternya dalam bidang nutrisi dari Mahidol University dan PhDnya dari Universite libre de Bruxelles, Belgia.

Ia pun bekerja profesional sebagai pengajar di Allied Health Sciences Faculty di Chulalongkorn University dan tak tergoda untuk aktif dalam kegiatan keislaman. Bujukan teman­temannya tak menggodanya.

Tetapi pada 1995, ia berubah pikiran. Winai mulai menggunakan laboratorium di kampusnya untuk menguji kontaminasi haram dalam makanan. Tak lama, kebetulan meledak kabar yang menghebohkan komunitas muslim Thailand bahwa ada sosis yang diklaim halal ternyata mengandung daging babi.

“Saya menemukan bahwa sosis itu murni daging babi,” ujarnya. “Jadi memang mudah memanipulasi komunitas muslim.”

Skandal tersebut membuat masyarakat muslim Thailand menyadari pentingnya laboratorium untuk menguji kandungan haram dalam makanan dan produk lainnya. Winai pun menginisiasi kelompok perlindungan konsumen muslim. Dia menjadi lebih aktif dalam kegiatan yang terkait dengan masalah halal­haram ini.

Rupanya, dukungan tak hanya datang dari masyarakat muslim, tetapi juga dari kampus. Bahkan belakangan pemerintah pun memberikan bantuan untuk pengembangan laboratorium halal.

Winai mengaku tak kesulitan meyakinkan pemerintah untuk mengulurkan tangan. “Saya katakan ke mereka bahwa jika kita ingin menjadi pengekspor produk halal nomor wahid di dunia, maka ilmu pengetahuan soal halal sangat lah penting.”

Pada 2004, lembaganya pun resmi menjadi The Halal Science Center dan memiliki laboratorium halal yang jauh lebih besar dan terus berkembang. “Akhirnya kami memiliki laboratorium yang sangat kuat,” kata Winai yang saat itu menjabat dekan.

Oleh:
Purwani Diyah Prabandari

Judul Asli: Winai Dahlan, Menapaki Jejak Sang Kakek
Majalah Masyarakat ASEAN Edisi 18

Leave a Reply

Close Menu