Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 18 Desember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
KHASANAH BUDAYA NUSANTARA
[Agama dan Pendidikan]






Benda Etnografi Suku Dayak Kalimantan Tengah di Museum "Balanga" Palangka Raya


PADA tahun 1963 Pemda Tingkat I Kalimantan Tengah mendirikan gedung Monumen Dewan Nasional, kemudian pada tahun 1966 dilakukan penambahan beberapa ruang. Sampai dengan tahun 1970 gedung ini mengalami kebakaran dua kali, kebakaran terakhir nyaris menghabiskan bangunan yang ada. Pada tahun 1972/1973 dilakukan pemugaran di atas reruntuhan gedung lama, dengan dana APBD Dati I Propinsi Kalimantan Tengah.


Pada tanggal 6 April 1973, gedung baru yang oleh Pemda Tingkat I Propinsi Kalimantan Tengah telah ditentukan sebagai Museum Daerah Propinsi Kalimantan Tengah, mendapatkan nama "Balanga." Balanga merupakan nama daerah sejenis keramik yang paling mahal harganya, serta menggambarkan status sosial bagi pemiliknya. Pada tahun 1977 dilakukan studi kelayakan, dan pada tahun 1987 dengan SK Mendikbud RI No 0754/0/1987 tanggal 2 Desember 1987 berdiri Museum Negeri Propinsi Kalimantan Tengah "Balanga" di Palangka Raya, yang diresmikan tahun 1990. Museum ini bertempat di Jalan Cilik Riwut Km 2,5 Palangka Raya.


Benda yang Dipamerkan


Benda yang dipamerkan di Museum "Balanga" terdiri dari koleksi-koleksi biologi, geologi, arkeologi, etnografi, sejarah, mumismatik, dan heraldik, keramik, seni, dan teknologi. Berikut beberapa koleksi pilihan (etnografi) yang dapat diketengahkan.


Sananam Mantikei


Salah satu benda warisan budaya Suku Dayak Kalimantan Tengah, adalah Sananam Mantikei. Sananam Mantikei mempunyai arti besi yang diperoleh di hulu Sungai Mantikei, tepatnya di Desa Tumbang Atei, Kecamatan Sananam Mantikei Samba, Kabupaten Kotawaringin Timur. Jenis besi ini bersifat sangat lentur, sehingga alat atau senjata yang terbuat dari jenis besi ini mudah dibengkokkan. Beberapa jenis senjata tajam dan alat yang dibuat dari besi Mentikei antara lain: Mandau, Tombak, Keris, dan Lancip (alat untuk membelah pinang).


Baju Nyamu


Nyamu yaitu nama daerah jenis pohon hutan yang mengandung serat bagus untuk kain bahan pakaian. Setelah pohon ditebang, kemudian dipotong-potong dan kulit luarnya dilepas dan dipukuli hingga tinggal serat halusnya. Kain nyamu digunakan untuk membuat pakaian, antara lain: sarung, selimut, handuk, cawat, celana, baju, lawung (tutup kepala). Baju nyamu dijahit dengan getah karet mahambung, yang awet bila dicuci. Selain nyamu juga ada pohon lain yang dapat diambil seratnya, misalnya salusi, banturung, puru, dan karet mahumbung.


Sapundu


Sapundu yaitu patung kayu yang digunakan untuk menambalkan hewan korban untuk upacara ritual Tiwah. Tiwah merupakan upacara pengantaran arawah ke Lewo tatao (alam baka) dalam agama Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah. Sapundu terbuat dari kayu keras misalnya ulin (tabalien), yang berbentuk orang (baik wanita atau pria). Hewan korban yang diikat di patung, biasanya bertanduk misalnya kerbau atau sapi. Beberapa Sapundu yang dipajang di Museum "Balanga" Palangka Raya, merupakan hibah dari masyarakat Desa Tumbang Mirah dan Kalanaman, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Kotawaringin Timur. Sapundu-sapundu tersebut kurang lebih telah berusia 250 tahun.


Betang


Pada masa lalu, di bumi Kalimantan sering terjadi permusuhan antarsuku (asang kayu). Permusuhan antarsuku ini berhenti setelah diadakan musyawarah perdamaian di Desa Tumbang Anoi pada tahun 1894, demikian juga sistem perbudakan yang ada. Untuk mengindari serangan lagi, dibangun sebuah rumah besar, panjang, tinggi, dan kuat, yang mampu menampung semua warga kampung, yang kadang-kadang mencapai jumlah 2.000 orang. Tinggi tiang minimal 3,5 meter, agar tombak-tombak musuh tidak dapat mencapai lantai betang, yang juga terbuat dari papan tebal. Tangga hanya satu dan terbuat dari kayu gilig yang mudah diangkat ke dalam betang, pada waktu malam atau musuh datang. Dinding betang setidaknya terbuat dari kulit kayu keras, atapnya terbuat dari sirap atau kulit kayu. Sebuah betang bisa berukuran 25 meter lebarnya dan 40 meter panjangnya. Di Museum "Balanga" telah diperagakan betang berukuran kecil atau miniatur. Sisa-sisa bangunan betang masih dapat dilihat di Kalimantan Tengah, beberapa di antaranya telah diputar sebagai warisan peninggalan budaya Suku Dayak.


Mihing


Salah satu benda warisan budaya Suku Dayak Kalimantan Tengah yang sekarang telah punah, yakni mihing. Mihing yaitu alat penangkap ('pengundang') ikan, yang terbuat dari kayu, bambu, dan rotan sebagai pengikatnya. Alat ini dibuat secara gotong royong pada akhir musim kemarau. Kayu yang dipilih untuk membuat alat ini adalah kayu kaja, tabulus, tawe, banuang, dan puri. Pada bagian depan (sisi hulu) tepatnya pada sebelah kiri dan kanan pintu, dipasang tiga pasang patung magis yang terbuat dari jenis-jenis kayu tersebut di atas. Patung-patung tersebut berfungsi untuk memanggil atau merayu ikan agar mau masuk ke dalam mihing. Alat ini biasanya dibuat dengan ukuran kelipatan 1 x 10, misalnya lebar 10 meter dan panjang 30 meter.


Para penangkap ikan siap di dalam mihing, dengan jaring (hantai) atau dengan atau dengan tangan kosong. Pada awal musim banjir ikan berduyun-duyun masuk ke mihing, sehingga dapat ditangkap dengan jaring. Bila ikan naik ke anjungan yang terbuat dari bambu dapat ditangkapdengan tangan kosong. Biasanya jenis ikan yang datang yaitu ikan minasa, baik di Kahayan hulu maupun di Kahayan hilir. Mihing dalam bentuk miniatur dipajang di Museum "Balanga" Palangka Raya. (Drs Sunarno Sastroatmojo)(Asdep Konservasi/Proyek Pengembangan Kebijakan Kebudayaan)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Yogyakarta Tuan Rumah Kongres I Kebudayaan Jawa
MUI Usulkan Pembatasan Izin Keramaian
JPS Kesehatan Dibutuhkan untuk Pasien Tak Mampu
Depag Turunkan Tim Verifikasi Rumah Ibadah ke Poso
Sistem Pendidikan di Indonesia Hanya Lahirkan Sekularisme