|
[Nusantara] Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit
PERUBAHAN iklim yang terjadi di seluruh dunia sejak beberapa tahun terakhir membawa dampak terhadap kesehatan. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 1996 telah memperkirakan perubahan iklim akan menyebabkan peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga 70 kali lipat pada tahun 2010.
Menurut, Prof dr Umar Fahmi Achmadi, MPH, PhD; Guru Besar Universitas Indonesia yang juga mantan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI; sejak beberepa waktu lalu, perubahan iklim juga berkontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit infeksi baru seperti Avian Influenza, SARS, Leptospirosis, serta kembali maraknya kasus-kasus diare dan penyakit infeksi perut.
Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa diare sudah tercatat menjadi pembunuh tertinggi kedua balita di Indonesia, bahkan sebelum timbulnya awarnes mengenai dampak perubahan iklim yang berujung pada kerusakan dan pencemaran lingkungan misalnya banjir, maka risiko timbulnya penyakit seperti diare, DBD, serta malaria diperkirakan meningkat.
Fakta tersebut menggugah Tupperware Indonesia dalam menggelar Seminar Aku Anak Sehat 2010 untuk guru sekolah dasar di tiga kota besar yakni Bandung, Surabaya, dan untuk guru-guru sekolah dasar dari Jabodetabekkra dan sekitarnya.
Para guru dalam seminar ini dibekali dengan kemampuan untuk menyosialisasikan perilaku bersih dan sehat kepada murid. Dan merupakan awal dari rangkaian Program Aku Anak Sehat yang dilakukan sebagai kegiatan CSR tahunan Tupperware.
Program yang akan berlangsung mulai bulan Agustus hingga Oktober 2010 ini bertujuan memberikan edukasi perilaku sehat kepada anak Kelas 1-3 SD dengan membiasakan mencuci tangan, tidak sembarangan membuang sampah, dan membawa bekal dari rumah (tidak jajan).
Sebagai pendidik, guru tentunya sangat berpengaruh dalam menanamkan dan menyebarkan mengenai perilaku sehat kepada anak-anak didiknya. Namun lebih penting, guru juga bisa berperan besar dalam menggalang perilaku sehat, ujar Marketing Director Tupperware Indonesia, Yanty Melianty pada seminar pekan lalu di Jakarta.
Menurut Yanty, guru juga dapat dibekali ilmu seperti cara berkomunikasi yang efektif dengan anak, standar lingkungan yang sehat, serta pengetahuan mengenai keamanan pangan dan wadah bekal yang aman.
Kami berharap dengan kegiatan ini guru bisa meneruskan pengetahuan dan ilmu yang mereka dapatkan di seminar kepada lingkungan sekitar mereka, ujarnya.
Tak hanya itu, menurut dia, ditambah dengan peningkatan risiko oleh karena perubahan iklim yang kini menjadi tantangan global, kedepannya guru akan berperan lebih penting lagi untuk melanjutkan penerapan perilaku sehat kepada generasi berikutnya.
Seminar dengan tema Standarisasi Kebersihan dan Keamanan Pangan, Wadah, serta Lingkungan Sekolah ini melibatkan lebih dari 900 guru dan menghadirkan Dr Ir Yadi Haryadi, MSc (pakar Ilmu dan Teknologi Pangan dari IPB), Direktur Surveilan BPOM Drs Suratmono MP, Kasie Dikdas Jakarta Selatan, Drs Momon Sulaeman, MPd, dan Rose Mini A Prianto MPsi, psikolog anak.
Diharapkan pada tahun ini, lebih dari 250 sekolah dasar akan berhasil dikunjungi oleh Tupperware. Untuk siswa Kelas 1-3 sekolah dasar akan dapat mengikuti film kartun edukasi Aku Anak Sehat, sedangkan sekolah akan mendapatkan dua set tempat sampah (organik, nonorganik, dan berbahaya), satu set tempat cuci tangan kaki, tiga set kata-kata motivasional, dan dua poster edukasi kebersihan untuk anak.(evi)
|