|
[Politik dan Keamanan] Golkar Belajar Mengolah Limbah Sampah ke Korea Selatan
Jakarta, Pelita
Rombongan DPP Partai Golkar yang dipimpin ketuanya, Ade Komaruddin memenuhi undangan Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan yang didukung oleh Asian Institute for Energy, Environment & Sustainability (AIEES) dan Korea Environmental, Industry and Technology Institute (KEITI).
Kunjungan itu untuk membahas masalah-masalah aktual di bidang lingkungan hidup dan kesehatan antara kedua negara, Indonesia-Korea Green Partnership. Kunjungan ini memenuhi undangan pemerintah Korea dalam rangka membahas isu-isu aktual dibidang lingkungan hidup dan kesehatan, ujar Ade Komarudin melalui siaran persnya yang diterima Pelita, di Jakarta, Selasa (27/7).
Selaku pimpinan rombomngan, Ade Komarudin yang membidangi Lingkungan Hidup dan Kesehatan DPP Partai Golkar itu didampingi Fatahillah Ramli (Bidang Lingkungan Hidup DPP Partai Golkar), Aartje Loppies (Bidang Hubungan Internasional SOKSI), dan Nana Priatna (BPSR Jawa Barat).
Menurut Ade, pihaknya berharap hasil kunjungan ke Korea Selatan ini bisa memberikan manfaat kepada pemerintah Indonesia dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya pengelolaan sampah yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sekarang ini, masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim atau global warming merupakan masalah serius bagi setiap negara di dunia untuk menjaga kelestarian lingkungan, kata Ade.
Apalagi lanjut Ade, negara-negara industri besar seperti Amerika dan Australia merupakan negara terbesar di dunia penyumbang gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim.
Dia menjelaskan, pertemuan dengan Menteri Lingkungan Hidup Korea Mr Lee Maanee telah dicapai kesepakatan tentang rencana pertemuan Green Partnership Indonesia-Korea di Jakarta tahun depan, yang akan dikuti para gubernur dan bupati dan pemerintah Korea serta para pengusahanya.
Saat ini, pertemuan green partnership Indonesia-Korea dilaksanakan di Seoul sejak 25 hingga 29 Juli mendatang, sedangkan tuan rumah pertemuan tahun depan di Jakarta dilaksanakan oleh Partai Golkar dan SOKSI.
Adanya MoU
Salah satu keputusan penting dari pertemuan green partnership di Korea ini adalah adanya MoU antara pihak swasta Indonesia dengan pemerintah Korea beberapa proyek green growth dan pengolahan sampah di Jawa Barat serta rencana beberapa pilot
proyek green town di beberapa kota di Indonesia.
Kita harapkan pertemuan itu nanti semakin mengeratkan hubungan kedua negara, khususnya dalam bidang bisnis dan perdagangan. Apalagi jumlah pengusaha dan profesional Korea di Indonesia saat ini berjumlah sekitar 45 ribu orang, ujar dia.
Selama kunjungan ke Korea, lanjut Ade, pemerintah memang perlu mengantisipasi dampak perubahan iklim dan menjadikan isu lingkungan sebagai agenda prioritas seperti menerapkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan pada pengelolaan sumber daya alam, menghindari terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan sumber daya alam, memberikan kewenangan dan tanggung jawab secara bertahap terhadap pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup serta yang tak kalah pentingnya adalah mengikutsertakan peranserta masyarakat dalam menanggulangi permasalahan lingkungan global.
Jika masalah ini bisa dilakukan, saya optimistis kelestarian lingkungan hidup dapat berhasil dilakukan seperti pengolahan limbah sampah kalau dikelola secara baik tentunya akan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun pengusaha dan pemerintah sendiri, kata dia.
Selain itu, Ade juga menjelaskan, selain melakukan kunjungan ke pusat-pusat industri yang ramah lingkungan yang
mampu memberikan kontribusi devisa kepada pemerintah Korea, dirinya juga akan menjadi pembicara dalam seminar serta melakukan kunjungan lapangan ke beberapa univeritas selama kunjungan lima hari di Korea.(ay)
|