Beberapa dari Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan Tari Serimpi yang berasal dari Yogyakarta. Tari ini diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 1613-1646. Tari Serimpi digelar di kawasan Kraton sebagai sebuah ritual dan hanya penari terpilih yang boleh membawakannya.

Jenis Gerakan dalam Tari Serimpi

Tari Serimpi terpecah menjadi dua jenis yaitu Jogja dan Surakarta karena pada waktu itu Kerajaan Mataram mengalami perpecahan. Dalam pertunjukannya, Tari Serimpi selalu menampilkan kisah-kisah pahlawan, seperti Mahabarata, Ramayana, Menak, Purwa dan sejarah Jawa lainnya.

Tarian Serimpi disebut sebagai simbol antara keburukan dan kebaikan yang terus berjalan beriringan. Dimainkan oleh dua pasang menari yang propertinya sudah disiapkan sesuai dengan jenis tariannya, jika mengisahkan perang berarti sang penari membawa senjata.

Lihat juga: Tari Serimpi Sangupati

Satu hal yang perlu Anda ketahui bahwasanya gerak dasar Tari Serimpi ini adalah Nganceng dengan karakteristik tenang, poros atau pusat kekuatan terletak pada cethik dan pelan. Uraian lengkap dari Nganceng sendiri adalah tangan kiri ditekuk ke depan dengan posisi ngruji.

Tokoh Tari Serimpi Ronggowati
Tokoh Tari Serimpi Ronggowati

Sedangkan tangan kanan memegang udhet dengan posisi nyempurit, badan dimainkan ke kiri dan ke kanan. Setidaknya ada 3 istilah gerak dasar dalam tarian Serimpi yaitu:

1. Maju Gawang

Maju gawang adalah gerakan di mana sang penari berjalan saat awal memasuki arena pentas. Gerak ini juga disebut sebagai kapang-kapang yang mana penari diharuskan untuk berjalan belok ke kanan atau ke kiri sesuai dengan pola lantai yang diinginkan.

Dalam Tari Serimpi pola lantai yang dipakai adalah horizontal atau lurus. Maksudnya, penari berada di satu garis dan tidak berpindah posisi. Pola lantai ini harus sesuai tempo dan penari harus gemulai dan lembut.

Gerakan maju gawang diakhiri dengan duduk yang disebut dengan sila lungguh sebagai tanda bahwa penari siap untuk memainkan tariannya. Gerakan ini dilakukan sangat apik dan teratur oleh para pemainnya.

2. Pokok

Nah, gerakan pokok ini bisa disebut dengan gerakan inti yang mana penari menampilkan adegan sesuai dengan alur cerita yang sudah diceritakan. Misalkan tentang peperangan, berarti para pemainnya membawa properti keris.  Ada beberapa jenis tarian Serimpi yaitu:

  • Tari Serimpi China.
  • Tari Serimpi Padelori yang mengangkat kisah Menak, perang antara Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtu Palaeli.
  • Tari Serimpi Merak Kasimpir.
  • Tari Serimpi Gendang Wati yang memiliki alur cerita kekuatan gaib, kisah Angling Darma. Properti yang digunakan adalah seekor burung mliwis putih dan sebatang pohon.
  • Tari Serimpi Sangupati yang menggambarkan kematian bagi orang Belanda.
  • Tari Serimpi Ludira Madu sebagai salah satu sarana mengenang sang Ibu dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.

3. Mundur Gawang

Terakhir adalah mundur gawang atau yang disebut dengan kapang-kapang mundur gawang, di mana gerakan ini sebagai pertanda akhir dari pementasan Tari Serimpi. Pada tahap ini penari mulai keluar dari panggung pagelaran.

Perlu Anda ketahui bahwa naskah Tari Serimpi tidak bisa dibuat secara sembarangan. Semua sudah tersimpan rapi di Perpustakaan KHP Krida Mardawa dan hanya dimiliki oleh pihak Keraton Yogyakarta.

Naskah ini telah disalin sesuai dengan aslinya pada masa pemerintahan Sultan HB ke VIII, yaitu sekitar tahun 1921-1939. Ada beberapa keunikan dari Tari Serimpi di antaranya adalah dilakukan oleh empat orang penari dari Jogja dan Solo, kedudukannya sangat istimewa, tarian suci dan sakral.

Begitu sakral dan suci hingga yang berhak membawakannya hanyalah orang yang lolos seleksi ketat. Tari Serimpi juga berkembang di luar keraton seperti di daerah Poncokusumo Malang yang ditujukan untuk membersihkan semua aura negatif. Inilah sedikit dari ragam budaya Indonesia.